CIAMIS, VOS Media — Pernah kepikiran nggak, kenapa Laksa Singapura atau Tom Yum Thailand bisa terkenal sampai seantero dunia, padahal masakan Indonesia sebenarnya nggak kalah lezat? Jawabannya ternyata sederhana: soal komunikasi. Pertanyaan menggelitik inilah yang jadi pembuka menarik dalam acara Pembukaan Muhadhoroh di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Sabtu (19/07/2026), bertempat di Ruang Pertemuan Lantai 3.
Muhadhoroh sendiri bukan kegiatan baru di Sabilurrosyad. Program latihan public speaking ini rutin digelar sepanjang tahun ajaran, melatih santri berbicara di depan umum dalam tiga bahasa sekaligus Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Bukan cuma soal berani tampil, santri juga digembleng supaya bisa menyampaikan gagasan secara runtut, meyakinkan, dan tetap penuh adab.
Ilmu Kuliner Jadi Analogi Jitu
Dalam sambutannya, Direktur Pendidikan Yayasan Pendidikan Sabilurrosyad menyampaikan pesan yang cukup menohok lewat analogi kuliner. Menurutnya, makanan bisa mendunia bukan cuma karena rasanya enak, tapi karena berhasil “dikomunikasikan” dengan baik ke seluruh dunia sebut saja Laksa Singapura, Hainan Chicken, atau Tom Yum. Padahal, katanya, kekayaan kuliner Indonesia jauh lebih beragam dan tak kalah lezat, tapi sering kurang dikenal karena minim promosi dan komunikasi yang tepat.
“Dalam kehidupan juga demikian. Ilmu yang dimiliki seseorang akan lebih bermanfaat apabila mampu disampaikan kepada orang lain dengan cara yang baik,” ujarnya, menegaskan bahwa kemampuan berbicara, berdakwah, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan adalah bekal wajib bagi setiap santri.
Lebih dari Sekadar Latihan Pidato
Tradisi muhadhoroh memang jadi ciri khas pesantren-pesantren modern di Indonesia dalam mencetak santri yang percaya diri dan mahir berkomunikasi. Di Sabilurrosyad sendiri, kegiatan ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri, jiwa kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, penguasaan bahasa, hingga keterampilan berdakwah secara efektif. Semua santri kebagian jatah tampil bergiliran, jadi sejak dini mereka sudah terbiasa menghadapi publik.
Lewat pembiasaan yang konsisten ini, Sabilurrosyad optimistis bisa melahirkan generasi muslim yang tak cuma kuat ilmu agamanya, tapi juga jago berkomunikasi santun, percaya diri, dan siap memberi manfaat luas bagi masyarakat.




