PONOROGO, VOS Media – Buat Anda yang penasaran kenapa alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sering punya karakter yang kuat dan serba bisa, jawabannya ada pada konsep pendidikan holistik yang sudah diterapkan sejak pesantren ini berdiri. Sistem ini nggak cuma mengejar nilai akademik, tapi menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan santri.
Konsep pendidikan holistik di Gontor dirancang buat mengembangkan semua potensi peserta didik secara bersamaan. Mulai dari mengasah akal dan ilmu pengetahuan, membina hati, menanamkan akhlak, memperluas wawasan, melatih kehidupan bermasyarakat, sampai membentuk jiwa kepemimpinan. Semua dilakukan secara paralel, bukan bergantian.
Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) jadi salah satu motor utama dari sistem ini. KMI bukan sekadar sekolah formal biasa, melainkan bagian yang menyatu dengan keseluruhan ekosistem pendidikan pesantren.
Menariknya, peran guru di KMI juga nggak cuma sebatas mengajar. Mereka berperan sebagai mu’allim yang mentransfer ilmu, murabbi yang membina karakter, muaddib yang menanamkan adab, sekaligus mudarris yang mengasah keterampilan santri. Kombinasi peran ini bikin proses belajar mengajar di Gontor jadi lebih dari sekadar transfer pengetahuan di kelas.
Lewat proses ini, santri dilatih berbagai kemampuan sekaligus, mulai dari kecakapan berbahasa, riset, sampai keterampilan jurnalistik. Semua kompetensi itu digembleng secara terpadu sehingga hasilnya bukan cuma santri yang pintar secara akademik, tapi juga punya kepribadian yang matang.
Salah satu hal unik dari Gontor adalah penerapan hidden curriculum, yaitu nilai-nilai pendidikan yang nggak selalu tertulis di kurikulum resmi tapi hadir di setiap aktivitas kehidupan pondok. Menurut Al-Ustadz Dr. K.H. Ahmad Suharto, M.Pd.I., Wakil Direktur KMI, segala hal yang dilihat, didengar, dan dialami santri selama tinggal di pondok merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
Sejarah mencatat, sejak KMI berdiri pada Sabtu 19 Desember 1936, sistem pendidikan yang dibangun bukan cuma berbentuk madrasah, melainkan pendidikan pesantren yang terintegrasi penuh selama 24 jam. Karena itu, di Gontor nggak ada pemisahan antara kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Semua dianggap satu kesatuan proses pendidikan yang saling melengkapi.
Pendidikan akhlak di Gontor juga nggak cuma disampaikan lewat nasihat atau ceramah. Nilai-nilai itu diwujudkan lewat keteladanan guru, pembiasaan sehari-hari, pemberian amanah dan tanggung jawab, sampai pengalaman hidup yang terus-menerus membentuk karakter santri.
Dengan pendekatan semacam ini, Gontor berharap bisa mencetak generasi yang nggak cuma jadi pribadi baik, tapi juga agen perubahan yang bermanfaat buat masyarakat. Filosofi holistik ini pula yang jadi landasan berbagai kegiatan di Gontor, mulai dari kepramukaan, olahraga, kesenian, sampai organisasi santri, karena semuanya dianggap bagian dari sistem pendidikan yang memang sengaja dirancang menyeluruh.




