Jangan Sampai Punah, Tradisi Menulis Kitab Diingatkan ke Warga NU di Tengah Banjir Konten Digital

Vos Media

JAKARTA, VOS Media – Di tengah gempuran konten digital yang datang begitu deras, warga Nahdlatul Ulama (NU) diajak untuk tidak melupakan satu hal penting: tradisi menulis kitab. Bukan sekadar nostalgia terhadap kebiasaan lama, tradisi ini disebut sebagai benteng yang menjaga kualitas keilmuan Islam agar tidak tergerus oleh banjir informasi instan.

Memang, era digital bikin siapa saja bisa dengan gampang dapat informasi keagamaan hanya lewat gawai di tangan. Tapi di balik kemudahan itu, ada persoalan yang tak kalah serius: banyak konten beredar tanpa dasar ilmiah yang jelas, apalagi metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebagaimana diberitakan muslimterkini.id, menulis kitab bukan cuma warisan para ulama zaman dulu. Ini soal menjaga sanad keilmuan tetap tersambung, di tengah zaman yang serba cepat dan serba singkat. Lewat kitab, sebuah pendapat keagamaan tidak berhenti pada kesimpulan saja, melainkan lengkap dengan sumber, argumentasi, dan konteksnya, sehingga bisa dipelajari, diuji ulang, bahkan diwariskan ke generasi berikutnya.

Kekuatan intelektual pesantren dan NU sendiri selama ini tumbuh dari tradisi ini. Banyak karya ulama masa lalu yang masih dikaji sampai sekarang, tidak cuma di Indonesia, tapi juga sampai ke berbagai negara.

Dibanding penyampaian secara lisan, kitab punya kelebihan tersendiri karena mampu menjaga ilmu tetap utuh, terdokumentasi rapi, dan bisa dikaji ulang kapan saja, lintas generasi.

Karena itu, anak-anak muda Nahdliyin didorong untuk naik level, bukan cuma jadi pembaca kitab, tapi mulai berani mengulas, menerjemahkan, menyusun catatan pinggir, sampai akhirnya melahirkan karya ilmiah baru yang tetap berakar pada tradisi keilmuan pesantren.

Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan media digital pun dinilai jangan sampai menjauhkan umat dari proses belajar yang mendalam. Tradisi berpikir kritis ala ulama tetap harus jadi ciri khas yang dijaga.

Sebab, persoalan-persoalan baru seperti kecerdasan buatan, krisis lingkungan, ekonomi digital, sampai dinamika sosial, butuh jawaban keagamaan yang lahir dari kajian serius. Bukan sekadar opini singkat yang lewat begitu saja di linimasa media sosial.

Ruang digital, pada akhirnya, seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan karya-karya ilmiah, bukan malah jadi ajang produksi konten kejar tayang demi popularitas sesaat.

Dengan terus menghidupkan tradisi menulis kitab, warga Nahdliyin diharapkan bisa menjaga warisan intelektual ulama sekaligus melahirkan karya-karya baru yang bermanfaat, baik bagi umat maupun perkembangan Islam ke depan.

Also Read

Bagikan:

Leave a Comment