CIAMIS, VOS Media – Persiapan pelaksanaan Lomba Tingkat II (LT2) Kwartir Ranting Jatinagara memasuki tahap krusial. Rapat koordinasi sekaligus tehnikal meeting digelar di lingkungan MTs Sabilurrosyad, Desa Dayeuhluhur, Kecamatan Jatinagara, pada Rabu (19/08/2026).
Kegiatan LT2 ini sendiri dijadwalkan berlangsung pada 15-17 September 2026. Rapat dipimpin langsung oleh Ust. Ibrahim selaku perwakilan Yayasan Sabilurrosyad yang bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara.
Rapat berlangsung santai namun serius di sebuah Gazebo beratap terbuka milik yayasan, dengan seluruh peserta duduk lesehan beralaskan lantai papan kayu. Sebuah layar proyektor dipasang di salah satu sudut gazebo, menampilkan denah digital lokasi perkemahan lengkap dengan titik-titik penting yang dibahas satu per satu. Suasana kian hangat dengan sajian kudapan ringan dan air mineral yang tersaji di tengah forum, khas obrolan kekeluargaan ala pramuka.
Rapat ini dihadiri lintas unsur, mulai dari jajaran pengurus Kwartir Ranting, panitia berseragam oranye, perwakilan pembina sekolah, hingga sejumlah pembina putri yang turut hadir memberi masukan.
Dalam paparannya, Ust. Ibrahim menjelaskan secara detail peta lokasi kegiatan, mulai dari titik pos PMR, akses air bersih, ruang guru yang akan difungsikan sebagai posko koordinasi, hingga jalur evakuasi darurat. Ia menyebut ada tiga titik utama yang perlu diperhatikan seluruh unsur panitia.
“Kalau memang tadi jalur evakuasi di MA, silahkan disana. Tapi saya memang informasikan disini ada,” ungkap Ust. Ibrahim kepada seluruh panitia saat memaparkan denah lokasi.
Selain jalur evakuasi, salah satu isu yang cukup ramai dibahas adalah keterbatasan lahan untuk tenda pembina. Bayangkan saja, dengan estimasi 34 pangkalan peserta putra dan putri, jumlah tenda yang harus didirikan di area perkemahan bisa mencapai 68 unit. Angka ini belum termasuk kebutuhan tenda para pembina pendamping.

Salah satu perwakilan pembina sekolah yang hadir dalam rapat pun menyampaikan usulan agar pihak penyelenggara mempertimbangkan penggunaan ruang kelas sebagai tempat istirahat pembina. Usulan ini muncul karena lahan perkemahan dinilai tidak akan cukup menampung seluruh tenda peserta ditambah tenda pembina sekaligus.
Menanggapi hal tersebut, Ust. Ibrahim membuka opsi pemanfaatan ruang kelas di dua gedung, yakni MA dan MTs, yang masing-masing memiliki empat ruangan kosong. Ruangan ini rencananya akan dibagi untuk kebutuhan pembina putra, pembina putri, panitia, hingga tempat menginap dewan juri dan tim rekap nilai.
Poin penting lain yang dibahas adalah pengaturan arus kendaraan logistik. Panitia sepakat menerapkan sistem buka tutup pada satu-satunya akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat, agar tidak terjadi penumpukan kendaraan saat proses bongkar muat perlengkapan peserta.
Untuk mengantisipasi kepadatan, salah satu peserta rapat mengusulkan penerapan sistem penjadwalan kedatangan berbasis nomor undian atau kupon, mirip mekanisme pembagian rapor di sekolah. Dengan sistem ini, setiap pangkalan memiliki slot waktu kedatangan tersendiri sehingga antrean dan kemacetan di lokasi bisa diminimalkan.
Rapat juga menyinggung opsi jalur alternatif melalui lahan milik warga sekitar untuk mendukung kelancaran mobilitas peserta menuju titik upacara dan area lomba. Opsi ini akan dikoordinasikan lebih lanjut oleh panitia lapangan dengan pihak terkait sebelum hari pelaksanaan.
Rapat koordinasi ini menjadi salah satu rangkaian persiapan penting menjelang LT2 Kwarran Jatinagara yang akan mempertemukan puluhan pangkalan gerakan pramuka se-Kecamatan Jatinagara. Insan vos, mari doakan agar seluruh rangkaian persiapan berjalan lancar sehingga LT2 tahun ini dapat terlaksana dengan aman, tertib, dan berkesan bagi para peserta.





